ANDA PENGUNJUNG KE:

Tuesday, February 5, 2019

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Henti Napas dan Henti Jantung disebabkan oleh Ketoasidosis Diabetikum

loading...

PENGELOLAAN PASIEN DENGAN
HENTI NAPAS DAN HENTI JANTUNG
DISEBABKAN OLEH KETOASIDOSIS DIABETIKUM

 





Disusun Oleh:
Donny Nurhamsyah
NPM. 220120170010








PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
 

ASUHAN KEPERAWATAN IGD RSHS
1.      Penjabaran Kasus
1.1.   Keluhan saat masuk ruang resusitasi
Pasien dari ruang medik I pukul 16.20 WIB mengalami perburukan kondisi, kemudian pasien ditransfer ke ruang resusitasi IGD RSHS. Saat tiba di ruang resusitasi, kondisi pasien semakin memburuk hingga pada akhirnya henti napas dan tidak lama menjadi bradikardi diikuti henti jantung.
1.2.   Riwayat penyakit
Pasien memiliki riwayat penyakit diabetes melitus tipe 2 dan riwayat akut kidney injury. Pasien sudah rutin mengkonsumsi obat-obatan untuk menangani penyakitnya.
2.      Initial Assestment
Airway
:
Tidak ditemukan masalah pada jalan napas pasien (Airway Clear).
Breathing
:
Pasien mengalami dispnea, RR 38 x/m, bentuk dan gerakan dada simetris, tidak ada suara napas tambahan.
Circulation
:
Nadi perifer 64 x/m dengan pulsasi kuat, TD 110/80 mmHg, warna kulit normal, tidak ada perdarahan, turgor kulit elastis, CRT ± 3 detik, suhu kulit hangat.
Disability
:
Pasien masih sadar, GCS E2 M4 V2, pupil isokor dengan diameter ± 3 mm, reflek cahaya positif.
Exposure
:
Tidak terdapat jejas diseluruh tubuh.

3.      Diagnosa Medis
Respiratory failure e.c diabetes melitus tipe 2 dengan ketoasidosis diabetikum e.c akut kidney injury d.d cardiac arrest.
4.      Pemeriksaan Penunjang
Waktu: 12 November 2018, 15.53 WIB
Px
Hasil
Unit
Rujukan
Darah Rutin
Haemoglobin
15,8
g/dl
12,3-15,3
Hematokrit
47,1
%
36,0-45,0
Leukosit
22,84
10^3/uL
4,50-11,0
Trombosit
356
ribu/µl
150-450
Eritrosit
5,83
Juta/uL
4,2-5,5
Glukosa Sewaktu
753
Mg/dL
<140
Ureum
46,1
Mg/dL
15,0-39
Kreatinin
2,44
Mg/dL
0,6-1,0
Natrium
126
mEq/L
135-145
Kalium
6,8
mEq/L
3,5-5,1
Klorida
97
mEq/L
98-109
Analisa Gas Darah
PH
6,974
-
7,35-7,45
PCO2
40,3
mmHg
35-45
PO2
44,4
mmHg
80-105
HCO3
9,4
Mmol/L
22-26
TCO2
10,7
Mmol/L
22,05-27,35
BE
-21,3
Mmol/L
-2 - +2
Saturasi O2
59,5
%
95-100

5.      Terapi Medis
Nama Obat
Dosis
Rute
Infus RL
20 TPM
IV
Oksigen Canula
5 l/m
Nasal
Sulas Atropin
0,5 mg setiap 3-5 menit
IV
Epinephrine
0,01 mg/kgBB setiap 3-5 menit
IV



7.      Analisa Data
Data
Etiologi
Problem
1.      Pasien mengalami dispnea.
2.      CRT ± 3 detik.
3.      Nadi 64 x/menit dengan pulsasi lemah.
4.      Warna kulit pasien mulai pucat.
5.      Gambaran lead 2 di monitor mulai tidak ireguler.
6.      Pasien terlihat gelisah.
Defisiensi insulin
DM tipe 1 atau 2
Sepsis
Peningkatan hormon glukagon, katekolamin, kortisol dan gh
Akselerasi katabolik
Proteinolisis
Peningkatan glukogenic substrat
Hiperglikemia
Glukosuria
Osmotik diuresis
Kekurangan cairan
Dehidrasi
Penurunan pre load
Penurunan cardiac output
Perubahan Volume Sekuncup
Penurunan Curah Jantung
Penurunan Curah Jantung
1.      Pasien mengalami dispnea.
2.      Usaha bernapas pasien terlihat berat ditandai dengan penggunaan otot bantu pernapasan.
3.      Rasio pernapasan pasien 2 inspirasi dan 1 ekspirasi.
4.      Sesekali pasien terlihat bernapas menggunakan bantuan mulut.
5.      RR 38 x/m.
Defisiensi insulin
DM tipe 1 atau 2
Sepsis
Peningkatan hormon glukagon, katekolamin, kortisol dan gh
Akselerasi katabolik
Lipolisis
Peningkatan FFA ke liver
Peningkatan ketonegenesis
Peningkatan alkali reserve
Asidosis
Kompensasi paru
Hiperventilasi
Pernapasan cepat dan dalam
Sindrom Hipoventilasi
Ketidakefektifan pola napas

Ketidakefektifan Pola Napas
1.      Pasien terlihat mengalami diaforesis.
2.      Pasien terlihat mengalami dispnea.
3.      Hasil AGD Abnormal (PH Asidosis, HCO3 Alkalosis, BE Asidosis).
4.      Bibir pasien terlihat kebiruan.
5.      Kesadaran pasien somnolen ditandai dengan skor GCS 8.
6.      Saturasi oksigen pasien 90% dengan bantuan nasal canul.
Defisiensi insulin
DM tipe 1 atau 2
Sepsis
Peningkatan hormon glukagon, katekolamin, kortisol dan gh
Akselerasi katabolik
Lipolisis
Peningkatan FFA ke liver
Peningkatan ketonegenesis
Peningkatan alkali reserve
Asidosis
Proses difusi di alveoli tidak maksimal
Ketidakseimbangan ventilasi perfusi
Gangguan Pertukaran Gas
Gangguan Pertukaran Gas
Prioritas Diagnosa:
a.       Penurunan curah jantung b.d perubahan volume sekuncup.
b.      Ketidakefektifan pola napas b.d sindrom hipoventilasi.
c.       Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi.


8.      Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa
Keperawatan
Tujuan & Kriteria Hasil
Intervensi
1.
Penurunan curah jantung b.d perubahan volume sekuncup
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 7 jam maka penurunan curah jantung teratasi dengan kriteria hasil:
1.      Tanda vital dalam rentang normal.
2.      Tidak ada distensi vena jugularis.
3.      Warna kulit tidak pucat.
4.      Gambaran ekg menunjukan kondisi yang normal.
5.      Pasien toleran untuk beraktifitas.
1.      Monitor tanda-tanda vital.
2.      Monitor toleransi aktivitas pasien.
3.      Monitor kondisi jantung melalui EKG.
4.      Monitor adanya sianosis.
5.      Monitor adanya cushing triad yaitu sistolic meningkat, diastolic menurun dan nadi menurun.
6.      Kolaborasi pemberian obat anti aritmia, inotropik, nitrogliserin dan vasodilator untuk mempertahankan kontraktilitas.
7.      Kelola pemberian terapi medis.
8.      Edukasi pasien untuk menurunkan kecemasan.
9.      Lakukan resusitasi jantung paru ketika pasien terindikasi dilakukan RJP (AHA, 2015).
10.  Kolaborasi pemberian terapi penanganan henti jantung (obat emergency).
2.
Ketidakefektifan pola napas b.d sindrom hipoventilasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 7 jam maka pola napas menjadi efektif dengan kriteria hasil:
1.      Tidak ada sianosis.
2.      RR dalam rentang normal.
3.      Tidak ada penggunaan otot bantu napas.
4.      Pernapasan tidal melalui mulut.
5.      Rasio inspirasi dan ekspirasi 1:2
1.      Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
2.      Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan.
3.      Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
4.      Monitor respirasi dan status O2.
5.      Monitor pola nafas.
6.      Pertahankan jalan nafas yang paten.
7.      Lakukan intubasi menggunakan ETT jika pasien terindikasi (AHA,2015 dan Guinnut, 2017).
8.      Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi.
9.      Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi.
10.  Monitor vital sign.
11.  Informasikan pada pasien dan keluarga tentang tehnik relaksasi untuk memperbaiki pola nafas.
12.  Kolaborasi pemberian oksigen nasal canul dan apabila tidak mencukupi diganti sesuai kebutuhan.
13.  Kelola pemberian terapi oksigen.
3.
Gangguan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 7 jam gangguan pertukaran gas pasien teratasi dengan kriteria hasil:
1.      Tidak ada dispnea.
2.      Tidak ada sianosis.
3.      Analisa gas darah dalam rentang normal.
4.      Tanda vital dalam rentang normal.
5.      Saturasi okigen diatas 95%.
6.      Kesadaran meningkat.

1.      Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2.      Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
3.      Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
4.      Monitor respirasi dan status O2
5.      Catat pergerakan dada, amati kesimetrisan, penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
6.      Monitor suara nafas, seperti dengkur
7.      Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
8.      Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan
9.      Monitor TTV, AGD, elektrolit dan ststus mental
10.  Observasi sianosis khususnya membran mukosa
11.  Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang persiapan tindakan dan tujuan penggunaan alat tambahan (O2, Suction, Inhalasi)
12.  Lakukan pemberian napas menggunakan oksigen tekanan positif bag valve mask jika kondisi pasien semakin memburuk (AHA, 2015).
13.  Ambil sampel darah arteri untuk pemeriksaan AGD.

9.      Implementasi Keperawatan
No Dx
Tanggal
Jam
Implementasi
Evaluasi
TTD
1
12 Nov 2018
16.20



16.25


16.25



16.25






16.30






16.30-16.50



16.30-16.50



16.30-16.50
1.      Memonitor tanda-tanda vital dengan memasang bedside monitor.
S: -
O: Pasien terpasang elektroda, cuff tensi dan saturasi.
2.      Memonitor toleransi aktivitas pasien.
S: -
O: Pasien intoleran terhadap aktifitas.
3.      Memonitor kondisi jantung melalui gelombang EKG lead II di bedside monitor.
S: -
S: Muncul gambaran PEA.
4.      Memonitor adanya sianosis.
S: -
O: Bibir klien terlihat sianosis.
5.      Memonitor adanya cushing triad yaitu sistolic meningkat, diastolic menurun dan nadi menurun.
S: -
O: TD 100/60 mmHg, 58 x/m.
6.      Mengkolaborasikan pemberian sulfas atropin untuk mempertahankan kontraktilitas setelah fase resusitasi jantung paru berhasil.
S: -
O: Klien masih dalam kondisi bradikardi dan obat rencana akan dimasukkan.
7.      Melakukan resusitasi jantung paru karena pasien mengalami henti napas henti jantung.
S: -
O: Klien mendapatkan 3 x 5 siklus RJP, ada nadi dan ada napas spontan.
8.      Mengkolaborasikan pemberian terapi epinephrin 0,01 mg/kgBB, amiodarone 5 mg/kgBB, lidocaine 1 mg/kgBB.
S: -
O: Obat masuk sesuai guideline AHA 2015.
9.      Kelola pemberian terapi medis.
S: -
O: Terapi resusitasi jantung paru masuk.
16.50 WIB
S: -
O: Resusitasi Jantung Paru berhasil diberikan dengan respon ada napas ada nadi.
A: Tujuan sementara tercapai
P: Monitor ketat kondisi pasien

D
2
12 Nov 2018
16.55


16.55



16.58



16.55



16.50


16.30


16.35





16.25


17.00



16.20




16.30






16.20
1.        Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
S: -
O: Leher pasien ekstensi diganjal selimut.
2.      Mengauskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan.
S: -
O: Suara vesikuler dan tidak ada suara napas tambahan.
3.      Memonitor respirasi dan status O2.
S: -
O: Pasien terpasang O2 nasal canul, RR 38 x/m, Saturasi 90%.
4.      Memonitor pola nafas.
S: -
O: Pasien masih kesulitan bernapas ditandai dengan penggunaan otor diafragma untuk bernapas.
5.      Mempertahankan jalan nafas yang paten.
S: -
O: Jalan napas clear dengan kepala diekstensikan.
6.      Mengobservasi adanya tanda tanda hipoventilasi.
S: -
O: Rasio pernapasan pasien masih 2:1.
7.        Mengkolaborasikan pelaksanaan intubasi menggunakan ETT untuk proses keadekuatan resusitasi.
S: -
O: Pasien terpasang ETT no 7 dengan kedalaman 20 cm.
8.      Memonitor vital sign.
S: -
O: RR 30 x/m, saturasi 92%.
9.      Menginformasikan pada pasien untuk mengatur pernapasannya.
S: -
O: Pasien tampak langsung mengatur napasnya.
10.  Mengkolaborasikan pemberian oksigen nasal canul dan apabila tidak mencukupi diganti sesuai kebutuhan.
S: Dokter mengatakan saat ini menggunakan nasal canul 3 lpm dan siaga BVM.
O: Pasien terpasang O2 nasal canul 3 lpm.
11.    Pasien diberikan bantuan oksigen melalui BVM untuk proses resusitasi jantung paru.
S: -
O: Pasien mendapatkan bantuan oksigen tekanan positif sesuai guideline AHA 2015 yaitu setelah 30 kompresi diberikan 2 kali napas bantuan.
12.    Mengelola pemberian terapi oksigen.
S: -
O: Pasien terpasang O2 nasal canul 3 lpm.
16.50 WIB
S: -
O:
1.      Resusitasi Jantung Paru berhasil diberikan dengan respon ada napas dan ada nadi.
2.      Pasien terpasang ETT ukuran 7 kedalaman 20 cm dengan BVM.
A: Tujuan sementara tercapai
P: Monitor ketat kondisi pasien
D
3
12 Nov 2018
16.55



16.50




16.30



16.50



16.20



16.20




16.30




16.50




1.      Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
S: -
O: Kepala pasien diekstensikan dengan diganjal selimut pada leher.
2.      Mengauskultasi suara nafas dan mencatat adanya suara tambahan.
S: -
O: Suara napas vesikuler, tidak ada suara napas tambahan.
3.      Memonitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot
S: -
O: Pola napas pasien cepat dangkal.
4.      Memonitor TTV, AGD, elektrolit dan ststus mental
S: -
O: Pasien terpasang bedside monitor, sampel darah untuk pemeriksaan AGD dan darah sudah diambil.
5.      Mengobservasi ada tidaknya sianosis.
S: -
O: Bibir pasien tampak sianosis.
6.      Menjelaskan pada pasien dan keluarga tentang persiapan tindakan dan tujuan penggunaan alat tambahan (O2, Suction, Inhalasi)
S: Keluarga mengerti alasan penggunaan alat bantuan.
O: Keluarga kooperatif.
7.      Memberikan napas menggunakan oksigen tekanan positif bag valve.
S: -
O: Pasien mendapatkan bantuan napas tekanan positif untuk memberikan keadekuatan asupan oksigen.
8.      Mengambil sampel darah arteri untuk pemeriksaan AGD.
S: -
O: Sampel darah berhasil diambil dan dilakukan pemeriksaan oleh lab.
16.50 WIB
S: -
O:
1.      Sampel AGD berhasil diambil dan sedang dalam pemeriksaan lab.
2.      Pernapasan pasien mulai terkontrol.
A: Tujuan sementara tercapai
P: Monitor ketat kondisi pasien
D





DAFTAR PUSTAKA
American Heart Association. (2015). Highlights of the 2015 American Heart Association Guidelines Update for CPR and ECC. Dalas, Texas, USA: Greenville Avenue. 877-AHA-4CPR/ www.heart.org/cpr. LOT 5340729 15-1002 10/15
Hamdy, Osama., Khardori, Romesh. (2018). Diabetic Ketoacidosis. MedScape. 08 Februari 2018. https://emedicine.medscape.com/article/118361-overview
NHS. (2017). Diabetic Ketoacidosis. NHS. 24 April 2017. https://www.nhs.uk/conditions/diabetic-ketoacidosis/
Gwinnut, Carl L. (2017). Should We Intubate Patients During Cardiopulmonary Resuscitation? Intubation Should Remain the Standard While We Wait for Randomised Trials. BMJ. BMJ 2017;357:j1772 doi: 10.1136/bmj.j1772 (Published 2017 April 18)

No comments:

Post a Comment

 
loading...