ANDA PENGUNJUNG KE:

Tuesday, February 5, 2019

Kegawatdaruratan Pediatrik Kejang Demam dan Tatalaksana

loading...

KEGAWATDARURATAN PEDRIATIK
KEJANG DEMAM DAN TATALAKSA: LITERATUR REVIEW













PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
 
Pendahuluan
K
ejang demam (demam) adalah tipe gangguan kejang masa kanak-kanak yang paling umum, yang terjadi pada usia tertentu, dikaitkan dengan demam 38,0 atau lebih tinggi, dan tidak ada bukti adanya penyakit penyebab yang pasti, seperti sistem saraf pusat. (CNS) infeksi atau kelainan metabolik (Chung, 2014). Kejang demam telah didefinisikan secara berbeda oleh National Institutes of Health (NIH), International League against Epilepsy (ILAE), dan American Academy of Pediatrics (AAP). NIH (1980) mendefinisikan Febrile Seizures sebagai berikut: kelistrikan neuron yang abnormal, tiba-tiba, berlebihan (materi abu-abu) yang merambat proses neuronal (materi putih) untuk mempengaruhi organ akhir secara klinis, kondisi ini terjadi pada masa bayi atau masa kanak-kanak, biasanya antara 3 bulan dan 5 tahun (Chung, 2014). ILAE (1993) mendefinisikan kejang demam sebagai kejang yang terjadi pada masa kanak-kanak setelah usia 1 bulan, terkait dengan penyakit demam yang tidak disebabkan oleh infeksi SSP, tanpa kejang neonatal sebelumnya atau kejang tidak beralasan sebelumnya, dan tidak memenuhi kriteria gejala akut lainnya (Chung, 2014).
Kejang demam dianggap sebagai "sindrom" karena memenuhi beberapa karakteristik yang serupa di antara anak-anak yang terkena: (1) Kejang demam umumnya terjadi dalam rentang usia terbatas; (2) mayoritas anak-anak dengan kejang demam menunjukkan perkembangan neurologis dan struktural yang normal setelah episode; dan (3) Kejang demam tidak terkait dengan anomali struktural atau perkembangan di otak, meskipun keberadaan patologi tersebut dapat meningkatkan kerentanan terhadap kejang demam, 6). Genetika, komorbiditas (kelahiran prematur, retardasi pertumbuhan janin), dan faktor risiko lingkungan (paparan nikotin dalam rahim, atau penggunaan antihistamin) dapat meningkatkan risiko kejang demam selain faktor usia (Banks, Paul, & Wall, 2011; Fetveit, 2008).
Kejadian kejang demam paling umum terjadi semasa kecil antara usia 6 hingga 60 bulan yang mempengaruhi sekitar 2-5% anak-anak pada kelompok usia tersebut. Prevalensi kejang demam dilaporkan tinggi dibeberapa negara-negara asia diantaranya terjadi 8% di Jepang dan 16% di China (Wanigasinghe, 2017). Penelitian lain mengungkap prevalensi kejang demam terjadi pada 3% hingga 5% pada anak-anak di Amerika Utara dan Eropa  serta mencapai 14% pada anak-anak yang berada pada wilayah Asia (Farrell & Goldman, 2011).
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk menentukan bagaimana penatalaksanaan kejang demam apabila terjadi di rumah atau jauh dari pusat pelayanan kesehatan. Harapannya kejadian cidera atau kematian pasca terjadinya kejang demam dapat dikurangi dan angka harapan hidup menjadi lebih baik lagi.
Diagnosis
Ketika anak mengalami kondisi kejang demam, sebagai petugas kesehatan di IGD harus bisa mengkaji riwayat sebelumnya secara detail, dan harus melakukan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosa yang tepat serta bisa mengidentifikasi penyebab demam, menurut (Paul, Blaikley, & Chinthapalli, 2012) daiagnosa banding pada kasus kejang demam pada anak meliputi:
a.       Menggigil tanpa terjadi penurunan kesadaran.
b.      Delirium.
c.       Demam disertai keadaan pingsan.
d.      Ada tahanan pernapasan disertai kehilangan kesadaran.
e.       Pengembangan sindrom Epilepsi.
f.        Infeksi pada sistem saraf pusat, meningitis dan encepalitis.
Pengkajian pada pasien yang mengalami kondisi kejang demam juga penting dilakukan pengkajian riwayat penyakit sebelumnya serta penyakit keluarga, apakah keluarga pernah mengalami kondisi seperti yang dialami oleh pasien, menurut (Chung, 2014; Fetveit, 2008) petugas kesehatan harus bisa menggali informasi yang penting terkait kejang demam yang dialami oleh pasien, diantaranya:
a.       Jenis serta durasi dari kejang yang terjadi
b.      Durasi post-ictal phase
c.       Lamanya demam yang terjadi
d.      Penggunaan antibiotik
e.       Gejala lain seperti keulitan bernafas dan diare
f.        Status Imunisasi
g.      Riwayat kejang sebelumnya
h.      Riwayat keluarga terkait dengan kejang demam, dan epilepsi
i.        Penggunaan antipiretik
j.        Penggunaan obat golongan anticonvulsants
Pengkajian fisik yang diperlukan meliputi pemeriksaan neurologis, pemeriksaan ini juga berfungsi untuk melihat apakah pasien mengalami infeksi pada jaringan meningen, dengan melihat adanya kaku kuduk pada pasien (Chung, 2014; Fetveit, 2008), pemeriksaan tersebut bisa digunakan untuk menilai adanya infeksi sistem saraf pusat pada anak-anak (Paul et al., 2012),
Pemeriksaan diagnostik yang bisa dilakukan untuk memperkuat tegaknya diagnosis kejang demam diantaranya:
a.       Pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, C-reactive Protein, Calsium, glucose, magnesium, urea, serta kultur darah untuk menilai adanya bakteri terkait sepsis.
b.      Urinalisa, serta urine kultur
c.       X-ray dada
d.      Kultrur Feses
e.       Fungsi Lumbal
f.        Electroencephalography (EEG)
(Paul et al., 2012)
Jenis Kejang Demam
Kejang demam dapat dikategorikan menjadi 2 kategori, yaitu (Wanigasinghe, 2017):
a.       Kejang Demam Sederhana
Kejang demam sederhana merupakan penyumbang sekitar 70% kejadian kejang yang terjadi pada anak. Kejang demam sederhana terjadi pada anak dengan durasi kurang dari 15 menit, tanpa tanda khusus, dan terjadi sekali dalam kondisi demam pada anak.
b.      Kejang Demam Kompleks
Kejang demam kompleks penyumbang sekitar 30% sisa dari kejang demam sederhana. Kejang demam kompleks terjadi dengan durasi yang lebih panjang dari kejang demam sederhana sekitar lebih dari 15 menit, ada gangguan fokal dan terjadi lebih dari satu kali dalam periode demam anak serta diikuti dengan gangguan sistem saraf pada anak setelah terjadi keadaan kejang mulai dari hari ke 0 hingga beberapa hari kedepan.
Tabel 1. Karakteristik kejang demam (Paul, 2016).

Faktor yang Mempengaruhi Kekambuhan Kejang Demam
Tabel 2. Faktor yang mempengaruhi kekambuhan kejang demam (Farrell & Goldman, 2011).
Penatalaksanaan Kejang Demam
Pada penanganan awal di unit gawat darurat, petugas kesehatan hal yang paling penting harus dilakukan adalah memanage kondisi anak, beberapa pasien biasanya datang ke UGD fase kejang sudah selesai, tapi beberapa juga masih dalam kondisi kejang, pada kondisi kejang penatalaksanaan awal yang dilakukan menggunakan metode ABCDE (Paul et al., 2012).
Pada resusitasi kasus kejang demam, petugas kesehatan bisa menghadirkan keluarga pasien, menurut (Maxton, 2008) keuntungan menghadirkan keluarga pada fase resusitasi diantaranya:
a.       Keluarga akan merasakan keterlibatan dalam perawatan anak-anak mereka dan keluarga merasa dekat dengan anaknya
b.      Membantu orang tua dalam memahami bahwa pasien menerima perawatan sebaik mungkin serta memberikan motivasi kepada petugas kesehatan bahwa mereka bisa melakukan tindakan yang terbaik untuk pasien.
c.       Meningkatkan hubungan antara keluarga dengan tenaga kesehatan
Pada kondisi setelah pasien mengalami kejang demam, perawat bisa memberikan edukasi kepada keluarga, edukasi yang tepat menurut (Village, 2008) diantaranya:
a.       Penggunaan antipiretik yang aman
b.      Mempertahankan status hidrasi, serta mengidentifikasi tanda dan gejala dehidrasi
c.       Mengidentifikasi non-blanching rash
d.      Memantau anak pada malam hari
e.       Mencari bantuan lebih lanjut jika anak-anak mengalami kejang lebih lanjut atau jika demam berlangsing selama lebih dari lima hari atau jika kondisi anak memburuk
Keluarga dan tenaga kesehatan sering menganggap bahwa peningkatan suhu berarti akan meningkatkan resiko kejang demam, dimana hal tersebut mengakibatkan penggunaan antipiretik berlebihan (Banks et al., 2011). Beberapa penelitian menunjukan bahwa meskipun penggunaan antipiretik dapat mengurangi suhu tubuh tidak mengurangi tingkat kekambuhan pada kondisi kejang demam (Banks et al., 2011; Chung, 2014). Penggunaan antipiretik hanya digunakan untuk mengurangi kondisi ketidaknyamanan pada pasien berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh, salah satu cara untuk menurunkan suhu tubuh anak bisa dengan menyarankan anak banyak minum untuk menjaga status hidrasinya (Banks et al., 2011).
Terapi yang bisa digunakan saat dirumah untuk penanganan kejang demam diberikan obat gilingan benzodiazepin, seperti diazepam rektal, atau midazolam buccal yang digunakan untuk emnghentikan kejang (Fetveit, 2008). Golongan benzodiazepin diberikan kepada anak yang mengalami kejang demam dalam waktu lebih dari 15 menit (Paul et al., 2012)
Pada pasien yang mengalami kejang demam yang sudah dipastikan karena permasalahan infeksi dilakukan observasi selama 6 jam setelah episode kejang (Shah, James, & Elayaraja, 2017). Observasi pada pasien kejang ini menurut (Village, 2008) direkomedasikan untuk:
a.       Anak yang berusia dibawah 18 bulan
b.      Terjadi kejang demam yang berkepanjangan atau bersifat kompleks
c.       Adanya resiko kekambuhan
d.      Di curigai adanya meningitis atau ensefalitis
e.       Tidak adanya sumber infeksi yang jelas
f.        Anak menunjukan keterlambatan perkembangan atau kelainan neurologis
g.      Orang tua tidak dapat mengatasi atau memantau kondisi pasien secara ketat segera setelah kejang demam anak.

Tabel 3. Penatalaksanaan medis kejang demam (Paul, 2016).
Model Pendekatan 4 Langkah Penanganan Kejang Demam
Mohammadi, (2010), menyusun sebuah model untuk penanganan kejang demam pada anak yang telah dipublikasikan pada Iranian Journal of Pediatrics sebagai berikut:
1.      Pengumpulan Data Pasien
Pada tahap ini tim medis mengumpulkan data yang relevan dari orang tua pasien. Informasi yang harus dikaji diantaranya:
a.       Usia pasien.
b.      Riwayat kejang pada keluarga.
c.       Riwayat tumbuh kembang anak.
d.      Durasi saat kejang terjadi.
e.       Kompleksitasnya.
f.        Adanya papilledema.
g.      Tanda gejala non spesifik saat bayi berusia kurang 18 bulan.
h.      Kelainan fisik saat terjadi kejang pada anak.
i.        Adanya pethecie.
2.      Penilaian Resiko
Terdapat tiga klasifikasi diantaranya:
a.       Intepretasi faktor resiko:
1)      Riwayat keluarga mengalami kejang demam.
2)      Usia kurang 18 bulan.
3)      Suhu tubuh terendah pasien.
4)      Durasi demam.
b.      Faktor yang memungkinkan:
1)      Riwayat epilepsi pada keluarga.
c.       Tidak memiliki faktor resiko:
1)      Kelainan perkembangan saraf.
2)      Kompleksitas kejang demam.
3)      Jenis kelamin.
4)      Etnis pasien.

3.      Seleksi Pasien
Fase ketiga ini untuk menentukan profilaksis dan perawatan pada anak dengan kejang demam. Tindakan yang perlu dilakukan diantaranya:
a.       Jarak tempat tinggal pasien dari pusat pelayanan kesehatan.
b.      Pasien yang memiliki riwayat gangguan neurologi sebelumnya.
c.       Ketika pasien memiliki tiga atau lebih faktor resiko pada fase 2.
4.      Pemilihan Strategi Pengobatan
Fase ini untuk menentukan strategi pengobatan saat pasien masih di rumah dan di rumah sakit. Tim medis diharuskan memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua mengenai penanganan sederhana apabila anak mengalami kejang demam. Salah satu yang dapat diajarkan kepada orang tua adalah bagaimana menggunakan obat anti kejang diazepam melalui anus anak saat terjadi kondisi darurat di rumah.

 
Gambar 1. Model pendekatan empat langkah mengatasi kejang demam (Mohammadi, 2010).



Algoritma Initial assesment pada kasus kejang demam anak
Gambar 2. Algoritma penanganan kejang demam anak (Fetveit, 2008)




DAFTAR PUSTAKA
Banks, T., Paul, S. P., & Wall, M. (2011). Managing fever in children with a single antipyretic. Nursing Times.
Chung, S. (2014). Febrile seizures. Korean Journal of Pediatrics. https://doi.org/10.3345/kjp.2014.57.9.384
Farrell, K., & Goldman, R. D. (2011). The management of febrile seizures, (August), 268–273.
Fetveit, A. (2008). Assessment of febrile seizures in children. European Journal of Pediatrics, 167(1), 17–27. https://doi.org/10.1007/s00431-007-0577-x
Maxton, F. J. C. (2008). Parental presence during resuscitation in the PICU: The parents’ experience: Sharing and surviving the resuscitation: A phenomenological study. Journal of Clinical Nursing. https://doi.org/10.1111/j.1365-2702.2008.02525.x
Mohammadi, M. (2010). Febrile Seizures : Four Steps Algorithmic Clinical Approach, 20(1), 5–15.
Paul, S. P. (2016). MANAGEMENT OF FEBRILE, 23(2).
Paul, S. P., Blaikley, S., & Chinthapalli, R. (2012). Clinical update: febrile convulsion in childhood. Community Practitioner : The Journal of the Community Practitioners’ & Health Visitors’ Association.
Shah, P. B., James, S., & Elayaraja, S. (2017). EEG for children with complex febrile seizures. Cochrane Database of Systematic Reviews. https://doi.org/10.1002/14651858.CD009196.pub4
Village, G. (2008). Febrile Seizures: Clinical Practice Guideline for the Long-term Management of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics. https://doi.org/10.1542/peds.2008-0939
Wanigasinghe, J. (2017). Management of simple febrile seizures, 46(2), 165–171.


No comments:

Post a Comment

 
loading...